Pemilik Perikanan, Dusun Nusagede

DSCF7010

Nusagede adalah satu-satunya dusun yang memiliki lahan untuk perikanan dimana dusun ini memiliki lahan perairan yang luas yang biasa digunakan utnuk memancing. Sehingga banyak nelayan di desa ini dan sering disebut desa nelayan. Ikan yang dihasilkan di dusun ini juga semua diolah dengan baik. Selain perikanan, dusun ini juga kaya akan usaha rumahannya seperti industri nata de coco, pembuatan kopra, pembuatan atap nipah, dan pembuatan ikan asin.

1.  Kunjungan ke Posyandu Dusun Nusagede

Pada hari Kamis 12 juli 2012 pukul 09.00-11.00 WIB, mahasiswa mengikuti kegiatan posyandu di Dusun Nusa Gede. Kegiatan ini dilakukan untuk membantu kader posyandu dalam hal penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan, dan pencatatan arsip posyandu. Posyandu dilaksanakan setiap bulan dan dihadiri oleh ibu hamil, bayi, dan balita. Tujuan diadakannya kegiatan posyandu ini adalah untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Masyarakat di dusun Nusa Gede memiliki respon yang positif terhadap kegiatan posyandu, dilihat dari banyaknya warga yang hadir.

Di akhir kegiatan posyandu, mahasiswa memberikan informasi tentang kesehatan gigi, keseimbangan gizi, dan pembuatan kompos organik yang juga direspon baik oleh warga. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan posyandu di antaranya adalah sulitnya mengukur tinggi dan berat badan anak karena anak terlalu aktif, pengisian arsip kurang lengkap karena warga tidak hadir secara rutin, selain itu penyampaian informasi dari mahasiswa tidak merata karena warga tidak datang secara bersamaan.

Dari kegiatan posyandu ini, mahasiswa peternakan, pertanian, biologi, dan teknologi pangan mengetahui bahwa gizi anak di Dusun Nusa Gede ini sudah terpenuhi yang dapat dilihat dari peningkatan berat badan anak setiap bulannya.

2.  Dialog dengan Aparat Dusun Nusagede

Dialog ini bertujuan untuk mengetahui profil dusun Nusagede. Berdasarkan hasil observasi, dusun ini memiliki 2 RW dan 9 RT di Dusun Nusagede. 5%  penduduk di Dusun Nusagede bekerja sebagai PNS, 3% adalah buruh kasar, 30% bekerja sebagai nelayan, dan 60% bekerja di bidang pertanian. Fasilitas di Dusun Nusagede ada masjid, dan sekolah yaitu TK Bina Harapan dan SDN Cijulang. Untuk kegiatan organisasi di Dusun Nusagede tidak ada, tapi kegiatan posyandu dilakukan teratur sebulan sekali. Kegiatan Puskesmas dan juga Pos Ronda dilakukan secara rutin. Potensi alam yang ada di Dusun Nusagede adalah pertanian, perkebunan kelapa, peternakan sapi, ayam, dan domba. Sawah yang ada di dusun Nusagede 40 hektar. Usaha Kecil Menangah yang ada di dusun Nusagede adalah nata de coco, nipah, dan pembuatan batu bata. Kegiatan masyarakat berjalan lancar dan silaturahmi senantiasa berjalan.

Manfaat dari observasi ini adalah mahasiswa jadi lebih mengetahui keadaan sosial dan ekonomi dari dusun Nusagede ini. Mahasiswa khususnya di bidang ekonomi dapat melihat persebaran mata pencaharian penduduk Desa Cijulang serta komoditas-komoditasnya yang menjadi potensi penghasilan untuk masyarakat dusun Nusagede. Kendala yang dihadapi adalah tidak lengkapnya data dari desa serta kurang otentiknya pengumpulan data.

3.  Kunjungan ke Peternakan Dusun Nusagede

Kegiatan kunjungan ke peternakan Dusun Nusagede dilaksanakan dari pukul 09.00 sampai 11.00. kegiatan dilakukan dengan mewawancarai ketua kelompok ternak Dusun Nusagede, Pak Maman. Jenis sapi yang diternak antara lain adalah jenis Limousine, Simental, Brahman, Ongole, dan sapi lokal. Jumlah sapi yang terdapat di peternakan tersebut sebanyak 77 ekor. Sapi yang dijual dari peternakan sebanyak 1-2 ekor setiap harinya.

Penjualan dilakukan ke rumah potong atau langsung ke pasar. Biasanya jumlah penjualan meningkat tergantung musim, misalnya pada saat hari raya besar seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Usaha peternakan sapi merupakan usaha sampingan warga. Peternakan merupakan salah satu sumber penghasilan terbesar warga. Sistem peternakan di dusun tersebut ada yang bagi hasil ada pula yang milik pribadi. Peternak sudah bisa memanfaatkan limbah kotoran sapi menjadi pupuk untuk tanaman padi dan rumput serta dimanfaatkan untuk biogas, namun pemanfaatannya sebagai biogas kurang berhasil dikarenakan kurangnya dukungan dari pemerintah mengenai penyediaan kompor gas dan kurangnya antusias warga karena prosesnya yang rumit.

Kendala yang dihadapi oleh peternak adalah sulitnya penyediaan pakan pada saat musim kemarau sehingga harus mengambil rumput dari Jawa Tengah dan pengontrolan dari Dinas Peternakan yang tidak rutin. Manfaat yang bisa didapat dari kegiatan tersebut bagi mahasiswa Fakultas Peternakan adalah mengetahui sistem peternakan Dusun Nusagede berupa cara pemeliharaan ternak, jenis pakan, sistem reproduksi sapi (inseminasi buatan), sistem kepemilikan, dan sistem penjualannya, sedangkan manfaat bagi mahasiswa Jurusan Biologi dan Teknologi Pangan adalah sistem pengolahan limbah sapi.

4.  Kunjungan ke Kelompok Tani Dusun Nusagede

Wawancara dilakukan terhadap 2 orang petani, yaitu Bapak Tatang Trisnadi dan Bapak Maman Suryaman. Hasil wawancara dari 2 petani tersebut hampir sama. Pertanian didominasi oleh sawah, ladang sayur dan perkebunan sayur. Kondisi lokasi lahan pada dataran rendah. Sistem pertanaman yang mereka lakukan adalah tumpang sari. Jenis tanaman yang ditanam adalah tomat, cabai, mentimun, terong, bunga kol dan lain – lain. Luas lahan yang ditanami sebesar 1 hektar. Kendala yang dihadapi oleh petani – petani di dusun tersebut adalah hama dan penyakit. Hama yang biasa mengganggu adalah wereng coklat, kepik dan ulat. Penyakit yang biasa menyerang adalah busuk batang dan layu untuk sayur – sayuran. Sedangkan untuk tanaman padi gejala kerusakan bila terserang hama wereng adalah daun menjadi kuning, kering, layu dan mati. Cara pengendalian untuk hama adalah dengan menggunakan pestisida. Pestisida yang digunakan adalah pestisida sintetik karena kebanyakan poetani di Dusun Nusa Gede belum mengenal pestisida organic. Pestisida sintetik yang digunakan adalah pestisida Simbus dan Alika dengan dosis 50 cc/ 100 bata. Selain menggunakan pestisida, di daerah perasawah Dusun Nusa Gede juga terdapat musuh alami hama – hama misalnya capung dan belalang yang dapat menyerang hama wereng.

Produksi tanamannya adalah 6 kg/ tumbak yang dihasilkan dari benih padi bersertifikat IR-64, ciherang, mikonga yang dibeli dr toko d Cijulang. Sistem irigasi yang diterapkan petani di Nusa Gede adalah sistem tadah hujan. Pemupukan petani di Dusun Nusa Gede menggunakan pupuk phonska sebagai pupuk dasar dan pupuk urea serta KCl sebagai pupuk susulan. Total hasil panen 14 kw/200 bata yang dijual dengan harga Rp 4000,00/kg dan dijual ke tengkulak. Sisa – sisa panen dijadikan pupuk atau mkan ternak. Para petani di Dusun Nusa Gede sudah pernah menerapkan pestisida nabati dengan menggunakan jengkol, sereh, picung dan tua leteng.

5.  Kunjungan ke UKM Pembuatan Atap Nipah Dusun Nusagede

Kunjungan pembuatan atap nipah atau atap rumah dari daun nipah dilakukan oleh mahasiswa KKNM Unpad 2012 di dusun Nusagede pada hari Kamis, 12 Juli 2012. Kunjungan ditemani oleh ibu Kepala Dusun Nusagede dan dilakukan kepada salah seorang pembuat atap nipah, yaitu bapak Asep (48 tahun). Kami mengamati bagaimana pembuatan nipah. Bahan untuk membuat atap nipah adalah daun nipah dan bambu. Cara pembuatannya sangat sederhana yaitu dilipat dua dengan bambu sebagai kerangka kemudian dijahit dengan bambu tipis. Bapak Asep ini sehari bisa membuat sebanyak 100 atap nipah. Hasil pembuatan dijual langsung ataupun melalui distributor dengan harga Rp1000,00/atap. Atap nipah ini mampu bertahannya hingga 4
tahun.

Kendala yang dialami oleh bapak Asep tergantung dari cuaca. Apabila musim kemarau tiba maka penjualannya kurang laku sedangkan musim hujan tiba penjualan meningkat tajam. Sedangkan kendala yang dihadapi oleh peserta yang melakukan kunjungan ini, tidak ada.

Manfaat bagi mahasiswa yang melakukan kunjungan ini adalah bagi mahasiswa perekonomian, dapat mempelajari salah satu mata pencaharian yang dilakukan oleh warga dusun ini.Dari kunjungan ini juga diketahui keuntungan yang didapatkan dari usaha ini tidak menentu karena tergantung pemesanan. Selain itu warga desa Cijulang mulai maju, sehingga atap nipah tidak terlalu banyak digunakan karena banyak rumah warga yang menggunakan atap dari genteng yang terbuat dari tanah liat. Modal yang digunakan dari usaha ini tidak ada, karena usaha ini memanfaatkan hasil dari alam, dan keuntungan yang didapatkan jika atap rumah dengan panjang 7 meter, maka atap nipah yang dibutuhkan sekitar 700 atap, dengan begitu keuntungan yang didapatkan berkisar Rp 700.000,00. Manfaat untuk mahasiswa lain adalah mendapatkan informasi tentang pembuatan atap dari daun nipah.

6.  Kunjungan ke UKM Pembuatan Ikan Asin Dusun Nusagede

Kunjungan pembuatan ikan asin dilakukan oleh mahasiswa KKNM Unpad 2012 di dusun Nusagede pada hari Kamis, 12 Juli 2012 kepada ibu Titin dan Yani. Kunjungan ini ditemani oleh ibu Kepala Dusun Nusagede. Kami mengamati bagaimana proses pembuatan ikan asin.  Cara membuatnya adalah ikan selar yang sudah diambil dari laut dibersihkan terlebih dahulu menggunakan air bersih. Kemudian direndam dalam air garam dengan perbandingan 2 kg garam dalam 38 L air selama 1 hari. Setelah direndam, ikan dibersihkan dengan air bersih sebanyak dua kali, lalu dijemur selama 1-2 hari. Setelah kering, ikan dipak dan dijual ke pasar dengan harga Rp5.000,00 sampai Rp6.000,00/kg.

Kendala yang dialami oleh ibu Titin dan Yani adalah keadaan cuaca dan jumlah ikan selar yang didapat oleh nelayan. Kendala yang dialami oleh mahasiswa KKNM Unpad 2012 adalah mahasiswa tidak bertemu langsung dengan pemilik ukm tersebut sehingga informasi yang didapat kurang mendetail. Selain itu tempat yang kurang bersih sehingga sanitasi dari usaha ini masih sangat kurang.

Manfaat didapatkan khususnya bagi mahasiswa kimia dan teknologi pangan. Pembuatan ikan asin ini memanfaatkan ilmu pengawetan pangan dengan metode penggaraman. Bahan pangan yang diasinkan dapat diperpanjang umur simpannya karena sifat garam yang berguna sebagai antimikroba. Garam bersifat antimikroba karena dapat melakukan plasmolisis, dimana plasmolisis merupakan proses dimana kadar air dalam mikroorganisme semakin berkurang sehingga mikroorganisme tersebut mati. Garam juga dapat mengawetkan bahan pangan karena sifat garam yang dapat menarik air dari dalam sel daging sampai titik kadar air tertentu.  Proses kimia yang berlangsung dalam pengawetan ini adalah pengurangan kadar air akibat pengaruh dari garam.

7.  Kunjungan ke UKM Pembuatan Kopra Dusun Nusagede

Kunjungan ke pabrik pembuatan kopra dilakukan oleh mahasiswa KKNM Unpad 2012 di dusun Nusagede pada hari Kamis, 12 Juli 2012. Kunjungan ini dilakukan bersama dengan ibu Kepala Dusun Nusagede. Kopra sendiri merupakan daging buah kelapa yang dikeringkan. Kopra merupakan salah satu produk turunan kelapa yang sangat penting karena merupakan bahan baku pembuatan minyak kelapa dan turunannya. Wawancara dilakukan dengan para pekerja di pabrik pembuatan kopra ini. Kopra adalah buah kelapa yang dikeringkan atau dibakar hingga kecoklatan untuk kemudian diproses lagi menjadi minyak kelapa. Selain pembuatan kopra, pabrik ini juga menjual buah kelapa, air kelapa, cangkang kelapa, dan batok kelapanya. Untuk harga jual kopra adalah Rp5.000,00/kg; buah kelapa adalah Rp2.300,00/kg. Untuk harga jual cangkang dan batok kelapanya dijual bukan per kilo tetapi per mobil dengan Rp150.000,00 untuk cangkang dan Rp500.000,00 untuk batok kelapa. Untuk air kepalanya biasanya digunakan untuk pembuatan nata de coco.  Pabrik kopra ini masih baru dibangun, yaitu sekitar 10 bulan yang lalu.

Pembuatan kopra dilakukan dengan pengeringan. Berdasarkan literatur, teknik pengeringan kopra dapat dilakukan diantarannya dengan pengeringan sinar matahari, pengeringan dengan pengasapan di atas api, pengeringan dengan pemanasan tidak langsung, pengeringan dengan pemanasan langsung menggunakan api (contoh pembakaran) dan pengeringan menggunakan solar system (Anonima, 2009). Pengeringan yang digunakan di usaha ini adalah dengan pembakaran. Kopra yang baik seharusnya memiliki kadar air sekitar 6-7%.

Kendala yang dialami oleh pemilik pabrik adalah proses pembuatan kopra untuk sementara dihentikan karena pabriknya baru terbakar sekitar 4 hari lalu, yaitu hari Sabtu tanggal 7 Juli 2012. Sehingga mereka masih menjual kelapa basah, cangkang, dan batok kelapanya saja. Kendala yang dialami oleh mahasiswa KKNM Unpad 2012 adalah mahasiswa tidak bertemu langsung dengan pemilik pabrik tersebut sehingga informasi yang didapat kurang mendetail.

Berdasarkan kunjungan ini, mahasiswa mempelajari bahwa kelapa bukan hanya buahnya yang dimanfaatkan sebagai minuman atau diolah menjadi santan, melainkan dapat dimanfaatkan sebagai kopra. Selain itu cangkang dari buah ini juga masih dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti usaha kerajinan tangan. Sayangnya, masih sedikit ditemukan usaha ini di desa Cijulang, padahal desa Cijulang kaya akan pohon kelapa karena daerahnya yang berdekatan dengan pantai. Jika pohon kelapa lebih banyak dimanfaatkan seperti usaha ini, dapat mengembangkan perekonomian dari desa Cijulang.

8.  Kunjungan ke UKM Nata de Coco Dusun Nusagede

Dusun Nusagede juga memiliki usaha pembuatan Nata de Coco sama seperti Haurseah. Jika dibandingkan dengan usaha yang ada di Dusun Haurseah, usaha ini masih banyak memiliki kekurangan. UKM Nata de Coco Dusun Haurseah lebih terstruktur, lebih terjaga dari segi sanitasinya, dan memiliki tempat yang lebih luas. Pabrik ini terletak di bagian ujung dari Dusun Nusagede, dimana lingkungan sekitar yang berupa hutan.

Proses pembuatan nata de coco sama seperti pada umumnya. Bahan utama dalam pembuatannya adalah air kelapa. Dengan bahan tambahannya adalah gula pasir, pupuk ZA, asam cuka, dan starter bakteri Acetobacter xylinum.  Tahapannya adalah pertama air kelapa dan semua bahan kecuali starter bakteri dan asam direbus terlebih dahulu lalu disaring dan didinginkan. Penggunaan dari pupuk ZA adalah sebagai asupan nitrogen untuk pertumbuhan bakteri tersebut. Selanjutnya ditambahkan starter bakteri Acetobacter xylinum dan asam cuka lalu diaduk rata. Penggunaan asam cuka adalah untuk memberikan suasana asam untuk pertumbuhan bakteri, karena Acetobacter xylinum dapat tumbuh optimal pada pH asam yaitu sekitar 4,3. Campuran ini lalu dimasukkan ke dalam wadah lalu ditutup dengan kain kasa atau kertas lalu difermentasikan. Proses fermentasi ini berlangsung selama 1 minggu. Setelah itu akan terbentuk lapisan nata, yang kemudian diangkat lapisannya dan dibersihkan bagian-bagian yang rusak. Nata yang telah bersih itu lalu dipotong-potong dan direndam dalam air bersih hingga rasa asamnya hilang.

Proses yang dilakukan di pabrik ini hanyalah sampai pada pembuatan nata de coco yang selanjutnya akan diolah menjadi bahan baku yang lebih layak dimakan. Karena pada pabrik ini, rasa nata de coco masih sangat asam dan belum dilakukan proses sterilisasi pada bahan pangan tersebut. Hasil pabrik ini dikirim ke pabrik yang lebih besar ke daerah Cirebondan ke pabrik di daerah Bandung. Harga dari hasil usaha ini berbeda tergantung tempat pabrik yang dituju. Jika dikirim ke Cirebon, nata de coco ini dijual sebesar Rp 1600,00 sampai Rp 1800,00 per kilonya. Sedangkan harga jual ke Bandung sebesar Rp1400,00 sampai Rp 1900,00 per kilonya.

Pabrik ini menghasilkan limbah berupa air hasil pencucian yang bersifat asam. Air ini dibuang ke hutan tetapi ditambahkan kapur untuk menurunkan asam dan bau yang tidak sedap. Air yang dibuang ini akan menyuburkan tanaman di kawasan hutan tersebut karena masih mengandung nitrogen.

Kunjungan ini menghasilkan manfaat yang besar khususnya untuk mahasiswa teknologi pangan, mahasiswa biologi, mahasiswa ekonomi, mahasiswa kimia, dan mahasiswa pertanian. Karena banyak ilmu mengenai pembuatan nata de coco yang dilakukan di pabrik tersebut. Selain itu juga dipelajari cara pemanfaatan sisa limbahnya dan berguna untuk lingkungan sekitar, dipelajari juga bagaimana teknis penjualan dari usaha ini dan reaksi kimia dalam proses fermentasi tersebut. Kendala dalam pabrik ini adalah masih kurangnya kebersihan dalam pabrik tersebut dan tempat pabrik yang masih sangat kurang teratur.

9.  Kunjungan ke Perikanan Dusun Nusagede

Pada sektor perikanan di dusun Nusagede tercatat jumlah nelayan 122 per tahun 2010. Nelayan ini berasal dari berbagai daerah, di antaranya Cijulang, Kondang Jajar, Parigi dan sekitarnya. Nelayan di perikanan ini dirumpun dalam suatu organisasi nelayan yang diketuai oleh Pak Didi Rusmayadi. Para nelayan berangkat pada sore hari dan pulang pada subuh hari. Namun ada beberapa larangan melaut bagi nelayan yang tertulis secara resmi diantaranya dilarang berangkat melaut pada Kamis setelah dzuhur dan pulang sebelum dzuhur pada hari Jumat, dan ada hari dimana semua nelayan tidak berangkat melaut yaitu yang ditetapkan pada hari Jumat.

Para nelayan di Nusagede umumnya melaut tidak menggunakan kompas dan hanya beberapa perahu saja yang menggunakan GPS, mengingat harganya yang cukup mahal. Sebagai gantinya, nelayan-nelayan tersebut menggunakan bantuan alam sebagai bantuan untuk menentukan arah mata angin, contohnya angin, arah deburan ombak, mercusuar dan tebing. Contoh kasusnya adalah saat subuh hari saat tak tahu arah pulang, nelayan memanfaatkan arah deburan ombak, bila deburan ombak menghantam perahu, berarti nelayan tidak pada jalan yang tepat untuk pulang karena posisi
nelayan semakin ke tengah laut.

Jenis ikan yang umumnya ditangkap oleh para nelayan diantaranya ada ikan tenggiri, ikan kembung atau tongkol, dan ada juga ikan layur di samping itu juga terkadang tertangkap juga ikan paus, lumba-lumba maupun pesut namun ikan-ikan tersebut dilepas kembali ke laut karena ada larangan untuk menangkap ikan yang dilindungi oleh dinas perikanan dan kelautan. Selain biota laut ada juga larangan untuk merusak hutan mangrove yang dilindungi oleh perhutani. Umumnya jumlah ikan yang ditangkap tergantung musimnya contohnya pada musim kemarau jumlah ikan yang ditangkap 50-100 kg setiap satu kali melaut menggunakan perahu yang kecil sedangkan dengan perahu yang besar dapat tertangkap ikan dengan jumlah berat 3,5 kuintal.

Di sekitar hutan mangrove banyak ditemukan jodang yaitu opsi atau usaha penangkapan ikan lain di  mana sebetulnya dilarang oleh pemerintah karena jarak setiap jaringnya hanya 1 inch sehingga ikan-ikan yang masih kecil juga dapat terjaring sehingga populasi ikan besar semakin berkurang karena dari kecil sudah tertangkap. Walaupun ada larangan tersebut. Namun jodang jodang liar masih menjamur di sekitar hutan mangrove.

Setelah ikan-ikan tertangkap, selanjutkan ikan-ikan tersebut di bawa ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang nantinya dari TPI akan dijual ke distributor maupun konsumen langsung. Penjualan ke TPI umumnya dipotong 12,5 %. Konsumen maupun distributor yang ingin membeli ikan langsung dari TPI harus mempunyai kartu anggota dan mempunyai uang jaminan. Beberapa ikan tersebut juga diekspor contohnya pada TPI di Pangandaran, ikan-ikan layur di ekspor ke Jepang dan Korea dan juga ada ikan kakap yang diekspor hampir ke seluruh penjuru dunia.

Kendala yang umumnya dihadapi oleh para nelayan yaitu kondisi alam yang sering tidak menentu contohnya air yang keruh dan kotor, amgin dan arus yang kencang, ombak yang tinggi, dan keberadaan ikan yang tersebar tidak merata. Air laut yang menjadi keruh umumnya disebabkan oleh limbah dari macam-macam tempat atau pasar yang bermuara di laut, selain itu juga disebabkan polusi dari perahu. Selain itu kendala dari pihak nelayan adalah harga alat dan biaya perawatannya yang mahal sehingga keuntungan yang didapat nelayan dari hasil tangkapannya berkurang.

Manfaat yang didapat oleh mahasiswa yang berkunjung ke perikanan dari segi pengolahan pangan adalah menambah pengetahuan mengenai cara pengawetan awal ikan sesaat setelah ikan ditangkap, yaitu menggunakan balok es batu yang disimpan di dalam cooler. Segi ekonomi manfaat yang didapat adalah mengetahui tingkat kesejahteraan para nelayan ketika adanya kendala dan pada saat panen. Ketika ada kendala seperti bencana alam, pendapatan para nelayan akan menurun karena hasil tangkapan ikan juga menurun. Ketika panen, pendapatan para nelayan akan naik karena hasil tangkapan ikan yang banyak. Manfaat lain yang didapat di antaranya adalah pengetahuan mengenai nelayan yang memanfaatkan kondisi alam untuk menentukan arah mata angin.

Kendala yang didapat oleh mahasiswa adalah lokasi perikanannya yang jauh sehingga membutuhkan transportasi. Waktu berkunjung yang kurang tepat (terlalu siang) juga menjadi kendala karena pada saat berkunjung sebagian ikan-ikan sudah didistribusikan ke pasar-pasar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: