Dusun Kaya Akan Telur Ayam, Dusun Haurseah

DSC_0246

Satu-satunya dusun yang memiliki lahan peternakan ayam petelur, dengan jumlah ayam petelur yang sangat banyak sekitar 4000 ekor. Selain kaya akan ayam petelurnya, dusun ini juuga kaya akan industri rumahannya. Yaitu, terdapat usaha nata de coco, pembuatan karpet dan atap mobil, industri sale pisang, dan lain-lain.

1.  Dialog dengan Aparat Dusun Haurseah

Berdasarkan hasil dialog, didapatkan profil mengenai dusun Haurseah. Dusun Haurseah memiliki jumlah penduduk kurang lebih berjumlah 1200 Kepala Keluarga  (KK) yang terbagi dalam 11 RT dan 4RW dan dipimpin oleh Bapak Gunawan, seorang lulusan sarjana. Mata pencaharian kebanyakan masyarakat Dusun Haurseah adalah petani, PNS, dan guru. Kegiatan keagamaan Dusun Haurseah bisa dilihat dari jumlah Masjid di dusun tersebut yaitu berjumlah 109 TK masjid dan cukup aktif. Pendidikan di dusun Haurseah beragam dari sekolah Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menangah Pertama (SMP). Organisasi yang ada di dusun Haurseah salah satunya adalah organisasi pemuda atau Karang Taruna karena jumlah pemuda di dusun ini cukup banyak, kegiatan sering dilakukan terutama pada bulan Agustus dan pada saat Hari Raya Idul Fitri. Organisasi lain adalah PKK, yang menjalankan posyandu setiap 1 bulan sekali dan (UKM) yang ada di dusun Haurseah adalah pabrik kerupuk, usaha pembuatan atap dari daun nipah, usaha rumahan nata de coco, makanan ringan sale pisang, serta karpet dan atap mobil dari sabut kelapa. Dusun Haurseah juga memiliki pemakaman yang cukup luas

2.  Kunjungan ke Peternakan Dusun Haurseah

Dusun Haurseah memiliki peternakan ayam petelur dengan nama pemiliknya Bapak Ruslan, ayam petelur didapat dengan membeli dari peternak Ciamis dengan rata-rata umur 5 bulan dengan harga per ekor Rp 65.000,00.  Jumlah populasi ayam yang terdapat di kandang ada sekitar 9000 ekor. Setiap pagi dan sore ayam diberi makan dengan ransum yang terdiri dari : konsentrat, jagung dan dedak, semua bahan-bahan pakan dibeli dari petani langganan di Ciamis, jumlah ransum yang diberi dalam satu hari sekitar satu ton. Untuk kesehatan ayam setiap  sekali setahun ayam disuntik dengan ND IB dan Endeclon, sedangkan untuk kebersihan kandang, setiap tiga kali seminggu kandang akan disemprot dengan desinfektan (antisep), dan untuk ayam yang telah berumur tiga tahun akan segera diafkir karena kemampuan bertelurnya sudah berkurang.

 Pemasarannya dilakukan langsung kepada pedagang pasar di Cijulang dan Ciamis, setiap hari ; telur yang dihasilkan sekitar 300 kg, ada dua grade telur, grade A yaitu telur  utuh dijual dengan harga Rp 18.500,- per kg dan grade B yaitu telur yang sedikit retak, dijual Rp 12.000,- per kilonya. Di peternakan tersebut ada sekitar 6 orang pekerja, dan terdiri dari 3 kandang, tipe kandang yang terdapat disana adalah kandang panggung dengan sistem kandang batere (individu) , atap monitor, dan terbuat dari bambu. Di peternakan tersebut limbah (feses dan cangkang pecah) tidak diolah, namun ditumpuk di bawah kandang terkadang ada warga yang membeli dan dijual Rp 9000,- per satu karung.

 Manfaat dari kunjungan ini adalah, mahasiswa khususnya peternakan dapat mempelajari metode peternakan ayam petelur, mulai dari cara perawatannya, jenis kandang yang digunakan, maupun pakan yang diberikan kepada ayam tersebut. Selain itu, manfaat juga dapat dipelajari untuk mahasiswa perekonomian yaitu bagaimana cara pemasaran dari peternakan ini.

Kekurangan dari peternakan ini adalah masih kurangnya kebersihan dari kandang tersebut. Selain itu masih kurangnya pemanfaatan limbah atau kotoran dari ternak ayam tersebut. Seharusnya kotoran masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Kendala yang dialami mahasiswa adalah tidak dapat bertemu langsung dengan bapak Ruslan pemilik peternakan, sehingga wawancara hanya dilakukan dengan salahs atu pekerja kandang yaitu Bapak Ahmidin.

3.  Kunjungan ke UKM Pisang Sale Dusun Haurseah

Kegiatan kunjungan dilaksanakan dari pukul 09.00 sampai 11.00. kegiatan dilakukan dengan mewawancarai pemilik usaha sale pisang. Jenis produk yang dijual diantaranya , sale pisang siem, sale pisang ambon, keripik pisang dan kue kembang goyang. Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan sale pisang adalah pisang siem dam pisang ambon, untuk produksi keripik pisang bahan bakunya adalah pisang nangka, sedangkan untuk produksi kue kembang goyang bahan bakunya adalah tepung terigu.


 Produksi utamanya adalah pisang sale. Usaha ini sifatnya home industry sehingga  masih mengandalkan SDM dari keluarga. Proses pembuatannya masih tradisional. Proses pengeringan pisang dilakukan dengan penjemuran dibawah sinar matahari dan proses penggorengan menggunakan kompor hawu. Pisang yang sudah kering dapat bertahan hingga 1 tahun. Pemasaran produk dilakukan dengan menitipkan produk di pasar dan warung-warung selain itu juga melalui pemesanan. Harga jual tiap produknnya bervariasi, untuk pisang sale siem Rp 20.000/kg, pisang sale ambon Rp 25.000/kg, keripik pisang Rp 20.000/kg dan kue kembang goyang Rp 12.500/kg.

4.  Kunjungan ke UKM Nata de Coco Dusun Haurseah
Kendala produksi pisang sale adalah pada proses penjemuran yang lama dan akan terhambat apabila musim hujan sehingga dapat mengakibatkan kerugian. Kelebihan produk sale pisang “AD” adalah sudah memiliki serifikasi produksi dari BPOM dan memiliki label halal dari MUI. Manfaat bagi mahasiswa Jurusan Biologi dan Teknologi Pangan adalah mempelajari proses pengawetan makanan dengan proses pengeringan. Manfaat bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi adalah dapat melihat bahwa manajemen dari UKM pisang sale ini cukup baik karena meskipun tanpa bantuan/binaan dari pemerintah, UKM ini masih bisa bertahan sampai sekarang ini.

UKM yang terdapat pada Dusun Haurseah yaitu UKM Nata de Coco yang dimiliki oleh Bapak Ade Suryanto. UKM tersebut baru berdiri selama 3 (tiga) bulan. Pabrik dari UKM ini terletak di pinggir jalan sehingga mudah untuk ditemukan dan dikunjungi. Di pabrik tersebut dilakukan proses pembuatan bibit, fermentasi, dan pemotongan lembaran Nata de Coco. Jenis pemotongan ada dua yaitu bentuk dadu dan bentuk serut. PT. Amico yang berlokasi di Jakarta merupakan target pemasaran dan penjualan Nata de Coco tersebut. Produksi yang dihasilkan oleh UKM Nata de Coco tersebut mencapai 400 ton per bulannya dengan harga penjualan Rp. 3.000.000,00 per ton. UKM ini memiliki 16 orang pekerja yang terdiri dari 10 orang yang bertugas untuk menyeset lembaran Nata de Coco dan 6 orang yang bertugas untuk memotong Nata de Coco.

Kendala yang dihadapi oleh UKM ini adalah tidak terpenuhinya jumlah pasokan bahan lembaran Nata de Coco yang akan diolah sesuai dengan permintaan target dikarenakan keterbatasan bahan dan tempat untuk mengolah. Sehingga UKM ini menambah pasokan bahan lembaran dari pabrik lain yang berlokasi di Jepara, Cirebon, dan Tasikmalaya. Untuk limbah dari UKM ini sudah dimanfaatkan dengan tepat yaitu sebagai pupuk pohon Nipah dan pakan lele. Namun, terdapat kesalahan dari drainase pembuangan limbah tesebut, dimana pembuangan limbah berakhir di aliran sungai yang bermuara di laut sehingga akan menyebabkan pencemaran air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: